Kabupaten sukabumi merupakan kabupaten terluas di jawa barat mencapai 11% dari total luas Jawa Barat terdiri dari 47 Kecamatan 381 Desa (data dari website BPS Jabar). Kondisi ini menjadi tantangan bagi pemerintah Daerah dalam menekan angka kematian ibu dan bayi serta stunting di Kabupaten Sukabumi. Dari 120 Kota Kabupaten se-Jawa Barat, Kabupaten Sukabumi masuk lokus AKI-AKB dan stunting yang merupakan 12 Standar Pelayanan Minimal (SPM), Mengingat masih tingginya angka kematian ibu dan bayi serta stunting.. Hal ini selaras dengan apa yang di sampaikan Ade Setiawan (Asisten Daerah Kabupaten Sukabumi) dalam sambutannya ketika membuka acara FGD Pedalaman isu tematik yang bertempat di pendopo kabupaten sukabumi, Ade menyampaikan “AKI-AKB di Kabupaten Sukabumi masih telatif tinggi namun perkembanganya dari tahun ke tahun terus membaik. Terjadi penurunan dari urutan kedua dari bawa hari ini sudah di urutan ke 4. Namun kasus AKI-AKB sekarang ini berpindah kasusnya dari yang mulanya terjadi di rumah karena ibu hamil tidak mau di tangani secara medis, sekarang berpindah yaitu di perjalanan (sistem rujukan).”

Sistem rujukan merupakan suatu sistem jaringan fasilitas pelayanan kesehatan yang memungkinkan terjadinya penyerahan tanggung jawab secara timbal balik atas masalah yang timbul, baik secara vertikal maupun horizontal ke fasilitas pelayanan yang lebih kompeten, terjangkau, rasional dan tidak dibatasi oleh wilayah administrasi. Diharapkan dengan adanya sistem rujukan pasien dapat pertolongan pada fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih mampu sehingga jiwanya dapat terselamatkan, selain itu dengan adanya sistem rujukan, diharapkan dapat meningkatkan pelayanan kesehatan yang lebih bermutu.

Sistem rujukan di Indonesia dibedakan atas 2 jenis yaitu rujukan medis dan rujukan kesehatan. Rujukan medis adalah upaya rujukan kesehatan yang dapat bersifat vertikal, horizontal atau timbal balik yang terutama berkaitan dengan upaya penyembuhan dan rehabilitasi serta upaya yang bertujuan mendukungnya. Rujukan kesehatan adalah rujukan upaya kesehatan yang bersifat vertikal dan horisontal yang terutama berkaitan dengan upaya peningkatan dan pencegahan serta upaya yang mendukungnya.

Hj.Lilih Resmiati,S.Tr.Keb seorang Bidan bertugas di Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi yang menjabat sebagai Kasie Kesehatan Keluarga yang Berprofesi Sebagai seorang Bidan. Menerima laporan kasus rujukan itu sehari sampai 25 kasus yang berkaitan dengan rujukan ibu hamil. Dan kebanyakan merujuk itu malam hari bahkan sampai dini hari. Bahkan Lilih sering menangani secara langsung beberapa pasien yang susah diterima oleh Rumah Sakit. Lilih berpandangan ini ada komunikasi dan informasi yang terputus, tidak bisa terus menerus seperti ini, ada yang salah dengan sistem rujukan yang ada. Bahkan RS Sekarwangi kewalahan dalam menangani kasus rujukan gadar maternal neonatal dari setiap Puskesmas.

Dengan pengalaman dan kemampuan yang dimiliki, Lilih mengambil sikap untuk berkomunikasi dan berkoordinasi dengan pihak terkait mulai dari pihak Rumah Sakit, BPJS Kesehatan, Para dokter dan Bidan dari setiap Puskesmas untuk mempercepat  sistem rujukan. Upaya yang dilakukan adalah membuat jejaring zonasi memanfaatkan Media Sosial (Whatsup Grup). Sistem zonasi ini selain dari pertimbangan jarak juga pertimbangan letak geografis dari masing-masing puskesmas ke Rumah sakit terdekat. Hal ini dilakukan agar proses penanganan dengan rujukan bisa efektif dan efisien serta mendapat respontime yang cepat sehingga pasien bisa mendapat penanganan lebih tepat.

Kabupaten sukabumi mempunyai 7 Rumah sakit baik swasta maupun PEMDA antara lain: Hermina, BMC, Sekarwangi, Betha Medika, Kartika, Jampangkulon, Pelabuhan ratu. Dari 7 rumah sakit Lilih beserta tim memetakan puskesmas terdekat secara radius ke 7 rumah sakit tersebut. Hasil pemetaan Zonasi tersebut adalah:

HERMINABMCSEKARWANGIBETHA MEDIKA
1.    SUKALARANG

2.    GEGERBITUNG

3.    NYALINDUNG

4.    CIJANGKAR

5.    CIREUNGHAS

6.    LIMBANGAN

7.    SUKARAJA

8.    KEBONPEDES

9.    KARAWANG

10.              PURABAYA

11.    CIDAHU

12.    CICURUG

13.    CIPARI

  1. CIKEMBAR
  2. WARUNGKIARA
  3. CIAMBAR
  4. KALAPANUNGGAL
  5. JAMPANG TENGAH
  6. CIBADAK
  7. KABANDUNGAN
  8. Parakansalak
  9. Girijaya
  1. CARINGIN
  2. SELAJAMBE
  3. GUNUNGGURUH
  4. CIBOLANG
  5. CISAAT
  6. KADUDAMPIT
  7. CICANTAYAN

 

 

JAMPANG KULONPELABUHANRATUKARTIKA
1.        JAMPANG KULON

2.        CIMANGGU

3.        CIBITUNG

4.        SURADE

5.        BUNIWANGI

6.        CIRACAP

7.        KALIBUNDER

8.        BANGBAYANG

9.        TEGALBULED

10.    CIDOLOG

11.    WALURAN

12.    CIDADAP

13.    CURUG KEMBAR

14.    PABUARAN

15.    LENGKONG

16.    SAGARANTEN

  1. BANTARGADUNG
  2. CITARIK
  3. SIMPENAN
  4. PALABUANRATU
  5. CIKAKAK
  6. CISOLOK
  7. CIEMAS
  8. TAMANJAYA
  9. CIKIDANG
  1. SEKARWANGI
  2. PARUNGKUDA
  3. BOJONGGENTENG
  4. NAGRAK

Dengan sistem zonasi ini ketika ada yang mau merujuk bidan akan menyampaikan data untuk dikonsultasikan kepada dokter. kemudian diberikan  jawaban penerimaan atau tidaknya pasien ke Rumah Sakit (RS) tujuan yang akan disertai pemberian Advice dr Dokter PJ RS dan setiap petugas yang merujuk wajib mengikuti advice yangg diberikan oleh Dokter PJ RS, jika tidak kami akan membuat catatan petugas yang merujuk darimana saja yang tidak mengikuti aturan RS dan akan kami serahkan ke pihak DINKES.

Jejaring zonasi by WA Grup ini bukan untuk menghapus siRATU atau aplikasi yang sudah ada, Namun hanya melengkapi kekurangan sistem rujukan saat ini karena Keterlambatan respontime rujukan sangat berpengaruh pada outcome rujukan. Lilih sadar sistem ini tentu masih banyak kekurangan dan tidak mengklaim bahwa sistem ini yang paling baik, tetapi setidaknya ini yang bisa dilakukan sambil memperbaiki sistem yang ada. Dan terbukti setelah sistem ini diberlakukan pihak RS Sekarwangi mengklaim mengalami penurunan kasus rujukan sebanyak 40% dari biasanya.

“Namun muncul masalah baru yaitu ketika ibu hamil yang mau melahirkan dan harus di rujuk ke RS namun hasil Rapidnya Reaktif dan ini setiap rumah sakit tidak bisa menerimanya. Selain agar menjaga penularan juga untuk menjaga pasien itu sendiri dan kedepan diharapkan Puskesmas mempunyai ruangan khusus dan jika RS full Bad, maka Puskesmas harus memiliki ruangan khusus untuk bisa menolong persalinan ibu hamil yang reaktif. Dan ini merupakan PR bagi kita semua dalam rangka menekan secara optimal Penurunan AKI-AKB di Kabupaten Sukabumi. Ujar lilih.”

Bagikan Berita