Terhitung sejak bulan maret 2021, sabadesa secara formal telah bekerja selama 1 (satu) tahun dengan FHI360 pada program USAID-MADANI di Kabupaten Sukabumi. Isu tematik yang dipilih yaitu percepetan penurunan AKI dan AKB (Angka kematian ibu dan bayi). Oleh karena itu kami merasa perlu melakukan refleksi atas pengalaman yang sudah dilewati selama 12 bulan terakhir. Beberapa hasil refleksi internal pengurus yayasan sabadesa yang disarikan dari berbagai perbincangan, bahwa kami menemukan beberapa perubahan dalam budaya dan prilaku organisasi yang dipengaruhi baik secara langsung maupun tidak langsung program MADANI.

Pada awal pembentukannya, sabadesa menghimpun para aktifis dan pegiat yang memiliki perhatian terhadap seluruh hiruk pikuk dan urusan yang ada di desa. Bagi kami, berurusan dengan pemerintah daerah dengan segala “kerumitan birokrasinya” merupakan suatu kemewahan, mengingat “habitat” sabadesa terbiasa berinteraksi dengan pemerintahan di level desa. Sementara program MADANI dengan isu tematiknya memaksa sabadesa harus melakukan lompatan frekuensi, yaitu dengan menjangkau dan menembus level birokrasi di tingkat OPD (Organisasi Perangkat Daerah). Setidaknya pada tahun pertama sabadesa bekerja dengan program MADANI ini telah membantu kami untuk menjangkau pemangku kepentingan yang lebih luas dimana selama ini kami memiliki kesulitan untuk sampai ke pemangku kebijakan di tingkat pemerintah daerah.

Selain menjangkau dilevel birokrasi pemda, kami juga merasa bersyukur karena melalui program MADANI ini bisa membentuk simpul belajar bersama beberapa CSO yang reputasinya dan legitimasinya sudah tidak diragukan lagi, sehingga bisa bekerja dan berjejaring dengan sesama CSO menjadi modal tambahan bagi agenda-agenda organisasi di masa depan.

Pada sisi perubahan prilaku dan pola pikir pengurus khususnya terkait isu tematik AKI dan AKB. Kami merasakan tumbuhnya perhatian khusus dalam merespon dan menganalisa kebijakan anggaran desa yang terkait dengan program untuk ibu dan bayi. Dimana sebelum kami terlibat pada program MADANI, yang kami analisa dari dokumen perencanaan desa (APBDesa) seputar kebijakan pemberdayaan ekonomi dan infrastruktur desa saja. Tetapi sekarang, isu AKI dan AKB secara perlahan menjadi tema diskusi dalam aktifitas keseharian sabadesa. Bahkan sistem informasi desa yang kami jalankan di desa juga terdorong untuk mengolah data-data ibu hamil dan bayi sebagai bahan informasi kebijkan pemerintah desa.

Karena permasalah AKI dan AKB ini telah menjadi perbincangan sehari-hari, pada satu waktu ada salah satu kawan dengan inisial A meminta bantuan pada kami untuk memberikan solusi atas masalah yang sedang dialami oleh temannya. Dimana temannya ini seorang perempuan yang masih duduk di bangku SMP  dan sedang mengalami kehamilan diluar nikah, Sementara pasangannya tidak bertanggung jawab dan malah meminta untuk digugurkan.

Setelah menerima pengaduan tersebut, kami sadar betul, sabadesa tidak memiliki pengalaman dan keahlian dalam mendampingi kasus tersebut. Oleh karena itu kami berinisiatif untuk meminta bantuk LENSA salah satu anggota simpul belajar yang kemudian mengutus ibu Arum untuk melakukan fasilitasi agar perempuan tersebut hak-haknya dapat terpenuhi.

Dari pengalaman tersebut kami merasa gelisah terhadap kondisi sosial kehidupan remaja kita, informasi yang kami dapatkan dari ibu arum juga ternyata cukup banyak kasus serupa terjadi di Sukabumi. Sehingga kami berinisiatif untuk melakukan sosialisasi dengan membuat Podcast bersama Ibu Arum dari (LENASA) Sebagai narasumber dengan membahas tema bahaya kekerasan dalam berpacaran di chanel sabadesa official. kami berharap langkah kecil yang dilakukan ini bisa menjadi sedikit upaya untuk merubah keadaan kehidupan remaja kita yang kian bebas dan tidak terkendali.

Refleksi ini mungkin dinarasikan secara acak berdasarkan pengalaman yang dialami kami selama 1 tahun terakhir bekerja pada program MADANI. Kami bersyukur karena melalui program MADANI ini akan memberikan wawasan baru, padangan dan jejaring untuk modal organisasi kedepannya agar dapat bermanfaat untuk kepentingan masyarakat banyak.

Bagikan Berita