Oleh : Abah Dion Anggawisastra

Para Nabi dan Rasul, memang tidak [secara langsung] mensakralkan [puncak] gunung. Namun rekaman sejarah mencatat bahwa mereka dan para Wali [kerap] menjadikannya sebagai tempat penting kaitannya dengan upaya-upaya [khusus] komunikasi dengan Sang Pencipta. Sebut saja Goa Hiro [tempat tahanuts dan diterimanya wahyu pertama KN. Muhammad SAW]. Gunung Tursina [tempat ingin bertemunya Nabi MUsa As dg Allah SWT], dan tempat-tempat kholwat para Aulia di tatar Nusantara. Demikian pula halnya di Tanah Sunda, puncak gunung adalah tempat suci, sakral dan terlarang.

Salah satu yang menjadi dasar sakralitasnya adalah karena [puncak gunung] diyakini dan difahami fungsinya sebagai “gentong bumi”. Yaitu “wiwitan” [asal] atau sumber kehidupan. Gentong artinya wadah dan bumi adalah tempat atau ruang hidup makhluk. Tempat berkumpulnya semua anasir hidup: tanah, air, api dan angin. Gentong bumi sebagai pusat anasir hidup [melaui media air], menjadi penghubung gelombang energi [konduktor] bagi keterhubungan/kesatuan alam semesta. Baik gelombang horizontal yang disebut dengan “Gunung tanpa tutugan” [rumpaka Cianjuran]. Sebagai energi “kamanusaan” yang menjelaskan bahwa melalui gunung energi terus mengalir “tanpa tutugan” tidak pernah berhenti. Ataupun juga gelombang vertikal, yakni apa yang disebut “Gunung Pangapungan” [rumpaka Cianjuran]. Sebagai energi “kagustian”, yang menjelaskan bahwa melalui gunung, energi terus naik tanpa henti “nganjang ka salaka domas [naik ke alam atas]”.

Baik para nabi dan rasul [yang dalam tradisi lama Sunda disebut sebagai “nu katitipan” (yg dititipi) “sara/kagustian”] maupun juga para leluhur Sunda [yang diyakini sebagai “nu dititipan’ (yang dititipi) “sasaka/kamanusaan”)] memiliki pemahaman yang sama tentang FUNGSI, KEDUDUKAN DAN KEBERADAAN puncak gunung. Ayat suci mengatakan, Gunung adalah pancang/pasak dunia [Surat Annaba] dan alam ini sudah ditentukan hukumnya oleh Sang Pancipta. Demikan pula leluhur [Sunda] menegaskan “Gunung teu meunang di lebur” [gunung tidak boleh dihancurkan] dan menjadi “hukum tangtu [hukum pasti]”. Adalah nyata, jika gunug-gunung dihancurkan/dilebur [sumber] energi semesta akan terganggu bahkan terhenti.

Gunung “gentong bumi” yang [fungsi dan kedudukannya] dapat dijelaskan baik secara “sara” maupun “sasaka” adalah dalam rangka menjaga hubungan [manusia] dengan alam [hablum minal ‘alam]. Keduanya memiliki kesamaan essensi pesan yakni demi menjaga siklus kehidupan dlm dimensi “kamanusaan” [kemanusiaan] dan “kagustian” [ketuhanan].

Pedaran Rahmat Leuweung
Dina halaman pangauban seuweu siwi

Nyanggakeun sapuratina kanggo Bupati Karawang.mugi janten kasurtian.
“Gunung teu meunang di lebur”.

Sumber di ambil dari status Facebook Abah Dion Anggawisastra